Visit our website koencinema.id & koencinema.com
Follow our Instagram @koencinema
Call/SMS/WA +6285745000109
Email [email protected]

Video CSR Pertamina Bali

Client: Pertamina MOR V
PH: KOEN Cinema Indonesia

Desa Bengkala merupakan salah satu desa di Kecamatan Kubutambahan Kabupaten Buleleng. Desa Bengkala terletak pada jarak 15,6 Km dari pusat kota Singaraja, atau sekitar 100 km jarak dari Kota Denpasar.  Salah satu kelompok masyarakat di Desa Bengkala yang mengalami masalah sosial dan produktivitas ekonomi/rumah tangga miskin  adalah komunitas kolok.  Kelompok kolok merupakan komunitas masyarakat yang menderita penyakit tuli-bisu bawaan sejak lahir dan berpotensi diturunkan ke generasi berikutnya. Jumlah penduduk penderita tuli-bisu di desa Bengkala yang dalam Bahasa Bali dikenal dengan sebutan “kolok” adalah 48 jiwa (> 2% dari jumlah warga desa yaitu 2.749 jiwa). 

Di daerah luar Bengkala, warga kolok biasanya diasingkan karena dianggap memberikan cuntaka (kekotoran) pada wilayah tersebut. Namun, di daerah Bengkala aturan itu dapat ditolerir dengan hanya membatasi aktivitas warga kolok dalam berprofesi sebagai penggali kubur dan buruh tani, dampak dari profaanisasi sosio-religus yang membelenggu warga kolok dari kewajiban. Fakta tersebut cenderung membatasi akses sosio-ekonomi warga kolok. Karena keterbatasannya, maka kelompok masyarakat ini hanya mampu bekerja sebagai penggali kuburan dan buruh tani. penghasilan warga kolok dari profesi penggali kubur dan buruh tani hanya Rp. 450.000,-/bulan.

Pendapatan warga kolok pada setiap pementasan Janger Kolok (rata-rata 3 kali/tahun) adalah Rp. 150.000/orang.  Penghasilan ini masih jauh dibawah UMR kabupaten Buleleng. Keadaan financial yang rendah, berimplikasi pada buruknya kualitas hidup komunitas kolok dari aspek pendidikan, kesehatan, dan pemenuhan kebutuhan hidup lainnya  Sebagian besar generasi tua dan generasi muda kolok termasuk komunitas yang tidak melek aksara/buta huruf, hanya generasi yang baru dilahirkan dalam dasawarasa  2000 ini yang baru tersentuh pendidikan inklusif.  dari 48 jiwa komunitas kolok, hanya 4 orang yang berpendidikan SMP, 5 orang SD, sisanya buta huruf.

Fenomena ini sungguh sangat memprihatinkan mengingat terbatasnya dinamika sosio-ekonomi-edukasi masyarakat kolok, yang berpotensi menciptakan marginalitas komunal semakin akut.  Kesulitan komunikasi menjadi faktor dominan keterbelakangan pendidikan kolok, meskipun dari observasi dan interaksi penderita kolok ini memiliki logik dan nalar yang baik. Meskipun terpasung dalam belenggu sosio-ekonomi, komunitas kolok hidupmerupakan pekerja yang rajin dan tangguh, sebagai penyakap, buruh, dan pengabdi sosial  melalui pementasan Janger Kolok,  meskipun dengan bayaran yang relatif rendah. 

Sebelum kehidupan yang harmonis antara masyarakat Kolok dengan masyarakat yang tidak kolok, masyarakat kolok sebagai kelompok rentan mudah terpengaruhi oleh kebiasaan negatif dari masyarakat yang tidak kolok, seperti mempengaruhi masyarakat kolok dengan minum – minuman keras, tarung ayam dan berjudi hingga terlilit hutang dan sampai masyarakat kolok menjual aset satu-satunya yang dimiliki yaitu lahan yang luas dengan harga yang sangat murah untuk membayar hutang dari kegiatan berjudi.Hal itu dilakukan karena masyarakat kolok tidak memiliki pekerjaan tetap, mayoritas pekerjaan masyarakat kolok sebagai Penggali Kubur, Kuli, buruh serabutan.

Berawal dari menjual tanah yang merupakan aset atau warisan dari leluhurnya untuk menutup hutang hasil dari berjudi yang dipengaruhi oleh masyarakat tidak kolok tersebut hingga menyebabkan konflik antara masyarakat kolok dengan masyarakat kolok yang masih mempunyai hubungan saudara yang tidak terima warisan tanah leluhurnya dijual tanpa sepengetahuan keluarga dengan harga murah. Ironis, Komunitas kolok dimanfaatkan oleh masyarakat yang tidak kolok dikarenakan kekurangan yang di alami mereka.

Program CSR PT Pertamina (Persero) DPPU Ngurah Rai yang diimplementasikan di Desa Bengkala direncanakan melalui proses pemetaan sosial (Social Mapping) dan diskusi dengan stakeholder terkait. Diharapkan program yang akan dijalankan di Desa Bengkala dapat menjawab kebutuhan dan potensi bagi Komunitas Kolok di Desa Bengkala. Kawasan Ekonomi Masyarakat (KEM) merupakan metode utama bagi kelompok kolok di desa Bengkala pada aspek peningkatan ekonomi dan sosial.

Pemberdayaan masyarakat yang pada dasarnya upaya pelibatan masyarakat untuk belajar dan beraktivitas secara berkelanjutan dengan cara unik mereka menjalani hidup dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka. Program KEM Kolok Bengkala merupakan model pemberdayaan yang dapat meningkatkan partisipasi aktif masyarakat dalam pengentasan kemiskinan melalui pemberdayaan dan pembelajaran berkelanjutan, bertolak dari potensi wilayah dan budaya lokal masyarakat setempat.

Tahapan Program pemberdayaan masyarakat di KEM Kolok Bengkala dibagi menjadi 3 tahapan, yaitu Penyadaran, Pengkapasitasan dan Pelembagaan. Tahap penyadaran (awareness) merupakan tahap  inisiasi untuk menyadarkan komunitas miskin kolok agar mampu memahami kondisi kemiskinan beserta penyebabnya, melakukan self-evaluation terhadap potensi, merefleksi terhadap permasalahan kemiskinannya dan upaya yang dapat ditempuh untuk penanggulangannya, melalui sosialisasi dan penyuluhan intensif, yang diorientasikan pada upaya mengatasi sosio-ekonomi kolok untuk bisa memanfaatkan lahan secara modern.

Tahap pengkapasitasan merupakan tahap aksi untuk mengkapasitasi komunitas miskin kolok dalam usaha produktif dengan memberi bantuan investasi infrastruktur fisik, bibit ternak sapi/babi/ayam, sumur bor/instalasi pengairan irigasi, rumah sehat, bibit tanaman, biaya pengolahan tanah, dan pelatihan managemen produksi dan pemasaran, sekaligus menyediakan pendampingan pada keluarga miskin untuk membangun, mengelola, dan membesarkan usaha produktifnya. Selanjutnya pada tahapan pelembagaan (institutionalization) adalah mewadahi usaha produktif KK miskin kolok pada suatu kelompok institusi/organisasi/koperasi yang dapat memudahkan proses belajar, transfer Ipteks, pemasaran,  jaminan legalitas formal dan keberlanjutan dari aktivitas produktif-ekonomi komunitas kolok pada (KEM) di desa Bengkala.

Program Pemberdayaan masyarakat ini harus bertitik tolak dari kondisi existing masyarakat kolok di wilayah Bengkala. Sebagai penekun aktivitas bertani, berkebun dan beternak, dengan kepemilikan aset lahan tanah yang cukup luas,  maka program KEM yang dibangkan bagi komunitas kolok pada secara substansial difokuskan pada model pertanian, peternakan, perikanan terintegrasi  untuk (1) membudayakan komunitas kolok hidup sehat dengan membangun unit rumah sehat kolok yang layak huni,  (2) mengedukasi sistem tani-ternak terintegrasi dengan membangun infrastruktur fisik sistem pertanian-perkebunan, perikanan, dan peternakan terintegrasi dalam upaya  mengintensifkan pengelolaan lahan yang tersedia secara optimal, dan (3) menguatkan konservasi budaya kolok untuk komoditas eco-sosio-culture tourism.

Program CSR DPPU Ngurah Rai menjawab kebutuhan dari Masyarakat Kolok bersentral kepada Wantilan / bale pertemuan yang di bangun oleh Pertamina sebagai tempat pusat kegiatan / Kolok training Centre. Dari tempat tersebut, lahirlah program yang dapat meningkatkan kapasitas dan menjawab potensi dan kebutuhan dari masyarakat kolok, program nya adalah sebagai berikut

(1) pembuatan sumur bor sedalam 156 m, sebelum ada sumur bor, masyarakat harus mengakses air sejauh 5 km (2) Aksara Kolok Kelih yang melibatkan 17 orang kolok mengenal huruf dan angka, (3) Pelatihan Bahasa Inggris untuk pemandu KEM Kolok Bengkala untuk 2 orang yang dapat memandu wisata dari mancanegara yang berkunjung ke KEM Kolok Bengkala (4) Gerakan Yoga Bengkala untuk meningkatkan konsentrasi 48 masyarakat Kolok (5) Pelatihan Kesenian Tari Jalak Putih dan Tari Baris Bebek Bengkala (Bebila) yang melibatkan 12 orang kolok dan berkolaborasi dengan 10 orang tidak kolok,

(6) Pelatihan Tenun Bengkala kepada 4 kolok dan 2 tidak kolok yang hingga sekarang mampu membuat 25 pcs per bulan yang dijual Rp. 350.000 per Pcs, apabila dikalkulasikan sebanyak Rp. 8.750.000 per Bulan, (7) Peternakan dan Pertanian Bengkala yang meliputi peternakan ayam, babi dan sapi secara terpadu, (8) Masyarakat Kolok mampu memproduksi Jamu Sari Kunyit Bengkala (Sakuntala) setiap bulan memproduksi 550 botol yang dijual 5000 per botol mampu menambah pendapatan sebesar Rp. 2.750.000 per bulan.

KEM Kolok Desa Bengkala saat ini mulai dikenal dan semakin banyak dikunjungi. dari bulan Juni 2016 lalu sampai dengan tahun 2017, KEM sudah dikunjungi 310 wisatawan, 63 orang di antaranya adalah wisatawan asing. Termasuk juga di dalamnya adalah 7 orang awak media dari Jawa Pos, tv one, tvri, kompas tv, dewata tv dan 5 orang dari media asing yakni BBC London, CNN dan NHK Jepang.

RING 1 Kawasan Ekonomi Mandiri (KEM) KOLOK BENGKALA

PROBLEM dan POTENSI

  • Kelompok Kolok merupakan komunitas masyarakat yang menderita penyakit tuli-bisu bawaan sejak lahir dan berpotensi diturunkan ke generasi berikutnya.
  • Sebagian besar generasi tua dan generasi muda kolok termasuk komunitas yang tidak melek aksara/buta huruf.
  • Dari 48 jiwa komunitas kolok, hanya 4 orang yang berpendidikan SMP, 5 orang SD, sisanya buta huruf. Rendahnya literasi ipteks dan tingkat pendidikan komunitas kolok berdampak pada ketidakmampuan ekonomi.
  • Banyak warga miskin Kolok tinggal di rumah yang tidak layak huni, dengan kondisi sanitasi yang jelek, dan derajat kesehatan yang rendah.
  • Profesi warga kolok dibatasi sebagai penggali kubur, buruh tani, peternak, dan buruh serabutan, sehingga berpotensi menciptakan lingkaran kemiskinan komunal yang semakin akut.
  • Kondisi geografis Masyarakat Kolok kesulitan air bersih, sehingga harus mengakses air sejauh 5 km.
  • Jarang mendapat perhatian dari sekitar, warga kolok dibiarkan eksis dan survive menuruti takdirnya sendiri.
  • Pendapatan warga kolok dari profesi penggali kubur, buruh tani, dan pementasan tari Janger Kolok masih jauh dibawah UMR Kabupaten Buleleng (hanya berkisar Rp 450.000 dari Rp 700.000 per Bulan).
  • Tari janger kolok, gong kolok, dan budaya kolok merupakan komoditas wisata yang belum tersentuh sebagai ikon wisata di Buleleng.
  • Masyarakat kolok mudah dipengaruhi oleh kebiasaan negatif dari masyarakat yang tidak kolok, seperti minum ñ minuman keras, tarung ayam, dan berjudi hingga terlilit hutang, sehingga sering menyebabkan konflik di antara mereka.
  • Hasil observasi dan interaksi menunjukkan penderita kolok ini memiliki logika dan nalar yang baik.
  • Kelompok masyarakat Kolok ini memiliki aset lahan yang cukup luas (5 Ha), dengan potensi sumber daya alam seperti pohon jambu mete, kelapa, bambu, kunyit dan jagung. Mereka juga memiliki ternak ayam tajen (spesial), babi, dan sapi masing-masing 15 ekor, 5 ekor, 3 ekor, yang dikelola secara tradisional. Sayangnya, mereka belum dapat memaksimalkan potensi dan mengolah secara mandiri aset-aset tersebut (sekedar dipanen dan dijual, tidak diolah untuk meningkatkan nilai jualnya).

PROSES DAN SOLUSI

  • Merealisasikan ide Kawasan Ekonomi Masyarakat dengan kemasan konservasi eco-sosio-culture tourism.
  • Tahap Penyadaran, memahami permasalahan kemiskinan beserta penyebabnya dan cara menanggulanginya, melakukan diskusi, evaluasi potensi, sosialisasi, dan penyuluhan intensif.
  • Tahap Pengkapasitasan merupakan tahap pememberian bantuan investasi infrastruktur fisik, instalasi listrik, gazebo, balai pertemuan, kandang ternak, bibit ternak sapi/babi/ayam, sumur bor/instalasi pengairan irigasi, rumah sehat, WC, dan bibit tanaman.
  • Tahapan Pelembagaan adalah mewadahi usaha-usaha produktif KK miskin kolok dengan koperasi agar memudahkan proses pemasaran, belajar, dan transfer Ipteks.
  • Membudayakan komunitas kolok hidup sehat dengan membangun unit rumah sehat kolok yang layak huni.
  • Sembahyang di Sanggah, Pura rong tigas, dan padmesana.
  • Pelatihan dan Pendampingan pada keluarga miskin untuk membangun, mengelola, dan membesarkan usaha produktifnya.
  • Pelatihan Menenun dan Pembuatan Motif Khas Bengkala. (Bisnis Produktif)
  • Pelatihan Produksi Jamu Sakuntala. (Bisnis Produktif)
  • Pelatihan Pertanian, Perkebunan, Perikanan, dan Peternakan secara terintegrasi, optimal, dan modern.
  • Budidaya Pok Coy. (Bisnis Produktif)
  • Pelatihan Tarian Bebila dan Yoga Bengkala.
  • Pembuatan Tari Jalak Putih dan Pemberian kelengkapan pakaian tari, tombak, kempur, dan gendang besar.
  • Pengajaran Aksara Kolok Kelih
  • Pemasangan Gapura KEM Kolok Logo Pertamina
  • Brosur Wisata Kampung Kolok

DAMPAK POSITIF

  • Bantuan investasi infrastruktur fisik dan non-fisik KEM Bengkala sangat dirasakan dan diakui kebermanfaatannya oleh komunitas kolok dan masyarakat sekitar.
  • Pendapatan masyarakat meningkat dari pelatihan dan produksi yang dilakukan.
  • KEM Kolok Desa Bengkala saat ini mulai dikenal dan semakin banyak dikunjungi, dari pihak lokal, mancanegara, maupun media.
  • Masayarakat kolok menjadi mandiri, mudah mengakses air, tercipta lapangan pekerjaan baru, masyarakat kolok kelih sudah bisa baca tulis, masyarakat kolok sudah memiliki tempat tinggal permanen.

KATA KUNCI dan NORMA BUDAYA/KEPERCAYAAN yang menarik untuk diangkat

  • CUNTAKA, warga kolok biasanya diasingkan karena dianggap memberikan cuntaka (kekotoran).
  • CARA BERKOMUNIKASI, pergaulan sehari-hari bersama masyarakat umum dengan bahasa isyarat kolok dan atau difasilitasi penerjemah yang disediakan oleh kelompok peguyuban kolok.
  • SENI TARI JANGER KOLOK, sebagai modal yang berpotensi menjadi aset budaya untuk mendongkrak kesulitan sosio-ekonomi warga kolok.
  • BUDAYA MASYARAKAT KOLOK, antara lain kerja keras, kesetiaan dalam persahabatan, jujur, sederhana, dan patuh pada tokoh panutannya.
  • PAKAR KUNYIT DAN AYAM TAJEN, petani kunyit terbaik dari generasi ke generasi dan pakar pemelihara ayam tajen yang sudah sering terbukti selalu unggul dalam konteks tajen.
  • PERSPEKTIF LAIN, komunitas kolok tidak menyadari dirinya menjadi objek wisata yang telah menjadi objek research pakar intelektual dari perguruan tinggi, para pramusita manca negara, dan lembaga sosial lainnya, karena keunikan komunikasi, keunikan rumah kolok, keunikan budaya, keunikan kreasi tari dan seni kriyanya, dan keunikan menjalani hidup dan kehidupan dalam komunitas inklusif di desa Bengkala.

Gimbal Setup
Shot with Sony A7s + Sony FE 12-24mm f4 G + Sony Zeiss Sonnar T* FE 55mm f1.8 + Zhiyun Crane V2 3 Axis Gimbal Stabilizer + DJI Ronin S

Tele and Macro Setup
Shot with Sony A7s + Sony A7III + Canon EF 70-200 f2.8 L IS USM II + Canon EF 100-400mm f4.5–5.6L IS II USM + Canon EF 100mm Macro L IS USM + Canon EF 135mm f2 L + Sony FE 70-200mm f4 G OSS + Sony FE 85mm + Sony FE 90mm f2.8 Macro G OSS + Manfrotto Monopod

Timelapse Setup
Shot with Sony A7s + Sony A6000 + Laowa 15mm f4 Wide Angle Macro + Canon 16-35mm f2.8 L USM + 20mm f1.8 EF + Meike 12mm f2.8 + Manfrotto Befree

Timelapse and Underwater Setup
Sony RX100 V + Underwater Housing + GoPro Hero 6 + GoPro Clamp Mount + DiCaPac WP-S5

Drone Shot with DJI Mavic Pro + DJI Mavic 2 Zoom in 4K 30P

Edited and Graded in Lenovo ThinkPad W520 with Adobe Premiere Pro CC Editing Software + Macbook Pro 2016 MLH42 + iMac Pro 2017 with FCPX

A Cinematic Insightful Storyteller. We create cinematic film with Light, Motion, and Action. A video production and cinematic filmmaker based in Surabaya and Yogyakarta. Professional in motion picture and cinematography projects

Koen Cinema Indonesia adalah jasa pembuatan video company profile, video profil perusahaan, jasa pembuatan video CSR, jasa video dokumentasi event, jasa pembuatan video iklan, , videografer Surabaya, videografer Yogyakarta, videografer Jakarta, ph Surabaya, ph Yogyakarta, kualitas terbaik. video csr perusahaan. kolok bengkala, video csr, contoh video csr

Comments are closed.